Membudidayakan padi dengan sistem salibu di semua jenis lahan pesawahan | Klik tani

Membudidayakan padi dengan sistem salibu di semua jenis lahan pesawahan

padi salibu
Pada dasarnya cara membudidayakan padi dengan sistem salibu dapat dilakukan pada berbagai lahan pesawahaan, baik itu lahan irigasi, lahan tadah hujan ataupun pesawahan yang mengalami  pasang surut.  Jika kita ingin melakukan system tanam salibu, syarat yang  paling utama yang harus dipenuhi  dalam membudidayakan padi dengan car ini  adalah
  • Bukan berada di daerah yang sudah menjadi langganan (endemic) penyakit Tungro (Kerdil Padi), busuk batang, dan hawar daun bakteri.
  • ketersediaan air yang cukup  atau dalam arti mampu di kondisikan dan di atur dengan baik, agar tidak terjadi genangan atau kekeringan yang cukup  lama
  • Kondisi  lahan pada saat 10 hari sebelum dan setelah panen harus dalam kondisi  lembab. Hal ini untuk membuat bertumbuhan tunas padi salibu lebih baik tumbuhnya dari pada kondisi lahan tergenang atau kering.
  • Pengembangan system tanam salibu sangat disarankan jika dilakukan pada suatu hamparan yang luas, minimal kira-kira  25 hektare luas pesawahan karena  untuk mengurangi dampak  serangan OPT (Organisme Perusak Tanaman).
Berikut ini Teknik membudidayakan padi salibu pada berbagai macam lahan pertanian:

1. Lahan Irigasi Desa


Pada saat pemotongan padi sisakantunggul  batang tanaman padi setinggi 25 cm dari permukaan tanah, hal ini bertujuan agar tanaman padi salibu memperoleh anakan secara maksimal, dan tercukupinya sinar matahari untuk berfotosintesis. Pada  saat panen kondisi tanah harus dalam keadaan basah (lembab), jika pada saat panen lahan sawah kering maka masukkanlah air segera setelah dilakukannya panen utama.

Biarkan tunggul sisa tanaman padi selama 7 sampai 10 hari setelah panen atau tunggu hingga keluar anakan baru. Apabila setelah tunas baru yang keluar kurang dari 70% dari populasi tanaman yang di budidayakan secara salibu maka jangan lanjutkan budidaya salibu tersebut. Tetapi  jika tunas yang tumbuh lebih dari 70% dari populasi, maka lakukanlah pemotongan ulang tunggul tersebut secara serentak dan seragam hingga tersisa setinggi  3 sampai 5 cm dari permukaan tanah.

Untuk mengantisipasi sisa jerami setelah panen, jangan lakukan pembakaran pada jerami karena akan berakibat mematikan tunggul-tunggul padi, perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi gunakanlah decomposer seperti EM4 dalam penguraiannya.

2. Lahan Tadah Hujan


Gunakanlah pupuk organic sekitar 2 sampai 5 ton/ha sebelum tanam tanaman utama dilakukan. Saat panen tanaman utama upayakan kondisi tanah tidak terlalu kering, jika kering maka lakukan pemberian air segera setelah panen dengan ketinggian 2-5 cm. Sisa pemotongan panen tanaman utama (jerami) sebaiknya diletakkan secara merata sebagai penutup permukaan tanah untuk mempertahankan kelembaban tanah, lalu gunakan EM4 sebagai decomposer.

Tunggul sisa panen dibiarkan selama 7 sampai 10 hari setelah panen atau hingga keluar anakan baru.  Jika tunas yang tumbuh lebih dari 70% dari populasi maka metode salibu bisa dilakukan, lakukanlah pemotongan ulang tunggul sisa panen secara merata setinggi  3 sampai 5 cm dari permukaan tanah. 
3. Lahan Pasang Surut 
Sebenarnya tidak ada perbedaan system salibu pada lahan pasang surut, hanya saja perbedaannya pada waktu tanam pada saat lahan mengalami masa surut yaitu sekitar bulan Okteber sampai Maret, atau menyesuaikan keaadan masa surut. Selebihnya system salibu ini sama seperti pada lahan irigasi ataupun tadah hujan.

Subscribe to receive free email updates: